Pembelajaran literasi dilanjutkan dengan public speaking SMP sahabat alam parung di mana murid difasilitasi oleh guru untuk menulis artikel lalu mempresentasikannya di depan murid murid lainnya dalam kegiatan kultum usai shalat Dzhuhur berjamaah. Berikut ini naskah asli karya Siti Husna Aprilia, murid kelas 9 SMP Sahabat Alam Parung :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang masih memberikan kita kesempatan untuk berkumpul pada hari ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin menceritakan sedikit pengalaman yang pernah saya alami. Sebenarnya, pengalaman ini cukup sederhana, tetapi dari sana saya belajar sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat.
Saya pernah berada di satu semester ketika hasil ulangan saya cukup bagus. Hampir setiap kali mendapatkan hasil ulangan, saya merasa senang karena usaha saya terbayarkan.
Namun, setelah itu justru terjadi sesuatu yang tidak saya sangka.
Saya mulai merasa terlalu nyaman.
Ketika akan menghadapi ulangan berikutnya, keinginan saya untuk belajar perlahan berkurang. Dalam pikiran saya mungkin ada perasaan, “Sebelumnya saja saya bisa, mungkin nanti juga bisa.”
Sampai akhirnya, beberapa nilai saya mulai menurun.
Sebenarnya penurunannya tidak terlalu besar. Tetapi dari situ saya sadar bahwa hasil yang baik sebelumnya tidak akan menjamin hasil yang sama apabila usaha kita berhenti.
Saya kemudian berpikir, mungkin terkadang kita tidak gagal karena kita tidak mampu. Kita hanya terlalu nyaman dengan keberhasilan yang pernah kita dapatkan.
Namun, ada pengalaman lain yang membuat saya melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Saya pernah berada dalam satu masa ketika kehidupan saya tidak berjalan seperti yang saya harapkan. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan banyak hal dalam keseharian saya berubah.
Ibu saya cukup sering memikirkan keadaan saya. Beliau banyak bertanya dan memikirkan bagaimana keadaan saya ke depannya.
Sementara itu, ayah saya justru lebih tenang.
Ayah pernah mengatakan kepada saya,
“Tidak apa-apa, yang penting Husna baik-baik saja. Waktu yang sedang dijalani ini juga pasti ada manfaatnya.”
Pada saat itu, mungkin saya belum benar-benar memahami perkataan tersebut.
Tetapi ternyata, masa itu membawa sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan.
Saya menjadi jauh lebih dekat dengan ibu. Kami menjadi lebih sering berbicara. Bahkan, kami sekeluarga mulai sering melakukan percakapan yang sebelumnya mungkin jarang dilakukan.
Hubungan keluarga saya yang sebelumnya terasa cukup dingin perlahan menjadi lebih hangat.
Dari dua pengalaman yang berbeda itu, saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu bisa kita nilai hanya dari apa yang terlihat.
Ketika nilai saya menurun, saya belajar bahwa keberhasilan tidak boleh membuat saya berhenti berusaha.
Dan ketika saya berada dalam masa yang terasa seperti sebuah kemunduran, saya justru menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya miliki, yaitu kedekatan dengan keluarga.
Dari sana, saya memiliki satu prinsip yang sampai sekarang ingin saya pegang:
“Pengalaman adalah bumbu dari kesuksesan, dan luka bukanlah hukuman.”
Bagi saya, pengalaman bukan hanya tentang hal-hal yang menyenangkan.
Pengalaman juga bisa berasal dari kegagalan, kekecewaan, kehilangan semangat, bahkan luka yang tidak terlihat.
Dan ketika saya mengatakan “luka bukanlah hukuman”, luka yang saya maksud bukan hanya luka yang terlihat secara fisik.
Ada juga luka batin—hal-hal yang mungkin tidak diketahui orang lain, tetapi pernah membuat kita merasa sedih, kecewa, atau terpuruk.
Namun, memiliki luka bukan berarti kita harus terus hidup di dalamnya.
Kita boleh belajar darinya. Kita boleh bertumbuh setelahnya. Dan kita boleh menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Menurut saya, ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya sedang Allah siapkan dari suatu kejadian.
Mungkin ada di antara kita yang sedang merasa tertinggal.
Ada yang merasa nilainya menurun, gagal mencapai sesuatu, kehilangan semangat belajar, atau sedang berada dalam keadaan yang tidak sesuai dengan rencana.
Kita mungkin bertanya,
“Kenapa harus saya yang mengalami ini?”
Tetapi mungkin saja, kita belum melihat seluruh jawabannya.
Bukan berarti kita boleh berhenti berusaha. Justru ketika kita mengalami kegagalan atau kemunduran, kita tetap harus memperbaiki diri dan melanjutkan langkah.
Karena terkadang, yang perlu kita ubah bukan keadaan yang sedang kita jalani, tetapi cara kita melihat dan menyikapinya.
Jadi, kalau hari ini ada di antara kita yang merasa sedang berada di belakang orang lain, jangan langsung menganggap bahwa perjalanan kita telah gagal.
Tetaplah berusaha, tetaplah belajar, dan tetaplah dekat dengan Allah.
Karena kita tidak pernah tahu, mungkin sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai kemunduran justru sedang membawa kita menuju sesuatu yang lebih berarti.
Mungkin pengalaman yang hari ini terasa pahit, suatu hari nanti akan menjadi bagian dari cerita yang membuat kita mengerti mengapa kita harus melewatinya.
Dan mungkin, luka yang pernah kita rasakan bukanlah akhir dari perjalanan kita.
Jadi, jika saya boleh meninggalkan satu kalimat pada kesempatan kali ini, mungkin kalimatnya adalah:
“Pengalaman adalah bumbu dari kesuksesan, dan luka bukanlah hukuman.”
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.